Navigation Menu+

Breaking cycles of ignorance & uncertainty

Posted on Feb 9, 2021

Banjir Semarang yang menerjang pada 6-7 Pebruari 2021 kemarin sungguh terasa. Apalagi banjir ini menerjang lokasi beberapa klien yang berlokasi di seputar Semarang bagian utara.

Wilayah yang selama ini jika puncak musim hujan hanya menggenangi jalan kawasan menuju kantor mereka, kemarin terasa sekali, air seakan ditumpahkan dari langit ditambah lagi muara sungai kali Siangker dan Pelabuhan yang meluap hebat.

Ketidakpedulian atas tata guna lahan dan penegakan hukum bertahun-tahun akut kita abaikan semua aturan tersebut. Kota Semarang bagian atas yang semestinya bisa menjadi daerah resapan air. Saat ini makin gundul oleh banyaknya konversi tata guna laha. Lahan hijau berubah menjadi hunian perdagangan, perkantoran, dan fasilitas lain yang makin membuat wilayah atas tidak menjadi daerah resapan air untuk kota ini.

Perbukitan hijau, digunduli untuk tambang galian C, tanah galian untuk menguruk lahan-lahan basah di wilayah pesisir. Bukit-bukit dengan savana yang luas disisi timur dan tenggara kota ini banyak beralih fungsi menjadi pemukiman. Ketika air dari hulu atas makin tidak tertampung ke hilir, Kota Semarang bawahlah yang akhirnya menderita. Terulang dan terulang.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *