Navigation Menu+

Motif batik Semarang, cerita lama atau cerita baru?

Posted on Nov 6, 2015

Sering orang mencari tahu tentang asal usul batik Semarang, bagi saya pribadi dengan banyaknya industri batik tulis yang berkembang di kota semarang di tahun 2015 saat ini tentunya membuat iklim kreatif bangkitnya motif dan gaya batik Semarang menemukan momentumnya untuk menancapkan gaya sendiri berbeda dari batik pesisir lainnya ( Cirebon, Pekalongan, dan lasem ) apalagi batik keraton Joga-Solo.

Sebenarnya jika menyebut semarang sebagai salah satu sentra industri batik di Indonesia tidaklah tepat karena Semarang hanya menyumbangkan sebuah celah baru teknis pewarnaan awal abad 20 yang dikembangkan oleh pembatik Belanda yang pindah dari Surabaya ke Semarang : Carolina Josephine van Franquemont.

Franquemont memperkenalkan warna hijau pada masa tersebut ketika warna sogan, biru, dan merah darah masih mendominasi warna batik pada awal tahun 1900 tersebut. Batik pesisir memang terkenal dengan keberanian eksplorasi warna-warna muda dan cerah. Semarang mempopulerkan warna hijau tersebut dan menjadi trend kemudian.

Kembali ke motif yang diperkenalkan oleh Franquemont, secara motif dan corak dia menggunakan cerita-cerita untuk kemudian dijadikan bahan utama dalam kain batiknya. Cerita gadis kecil berkerudung merah dan serigala menjadi sangat indah lewat karya motif dia kala itu.

Jika hal itu kita cerminkan kepada industri batik yang sekarang berkembang tentunya ini cocok, karena para desainer batik Semarang berani mengambil cerita lokal dan landmark kota untuk mereka angkat didalam motif batik mereka. ( Cerita wewe gombel, blekok tembalang, lawang sewu, warak ngendog ramai beredar saat ini )batik last 2 low batik last 3 low batik last 4 low

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *