Navigation Menu+

Jengki, sebuah aspirasi kebebasan

Posted on Oct 14, 2015

poster jengki desain_fasade_jengki_ayani desain_interior_jengki_sputnik jengki7

Jengki, sebuah langgam arsitektur yang jarang disebut oleh literatur jarang diangkat menjadi topik cuplikan sejarah arsitektur di Indonesia, meski sebenarnya Indonesia pernah hidup dan masih bisa menikmati hasil karya nya hingga sekarang.

Jengki hampir sebagian besar atau bahkan tidak dirancang oleh arsitek professional, mereka adalah para lulusan STM yang mendapat edukasi dari para arsitek Belanda yang membuka kantor konsultan arsitektur di negeri ini sebelumnya. Lini masa mereka yang tumbuh pasca Indonesia merdeka membuat sebuah hipotesa social adanya sebuah gerakan aspiratif dari para pembangun bangunan untuk keluar dari kungkungan penjajah lewat karya mereka. Aspirasi keinginan untuk menunjukkan meski ditengah keterbatasan perekonomian yang baru seumur jagung, beberapa pemilik bangunan ingin mengangkat citra diri bahwa dia telah mampu membangun rumah bata, bukan rumah kayu, atau bahkan rumah ‘kendhit’ – setengah bata hingga 1 m diatas lantai, sisa dinding keatas masih berupa dinding papan kayu.

Kecenderungan untuk menghias fasade ada dan sangat kental terjadi di era jengki ini, fasade yang dihias dengan daun jendela, pintu, lubang angin, permainan batu temple sangat dominan menghiasi wajah rumah jengki saat itu. Hal ini kemungkinan juga disebabkan oleh terlambatnya teknologi cat tembok yang baru berani masuk setelah era 90an baru banyak digunakan.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *