Navigation Menu+

Saatnya Tahun Kreatif

Posted on Jan 5, 2020

Saatnya Tahun Kreatif

Melihat dari dekat dan tinggal bersama pengrajin, penenun dan tukang di wilayah lain di negeri ini selama beberapa bulan semakin membulatkan keyakinan bahwa keunggulan karya seni nusantara harus jadi pijakan keunggulan komparasi bagi negeri ini untuk mengebut ketertinggalan di bidang pariwisata dibanding negara Asean lainnya.

Apa yang membuat mereka tetap bergairah untuk melanjutkan profesi warisan dari orang tua, kakek dan buyut mereka mengesampingkan faktor mendapatkan sejumlah uang, sungguh menjadi sebuah rangkaian cerita yang menarik untuk ditelusuri.

Ketika Badan Ekonomi Kreatif mengirimkan para praktisi kreatif lewat program kolaborasi desainer dan pelaku lokal di beberapa potensi desa, kabupaten-kota kreatif di Nusantara, nyata terlihat bahwa potensi kreativitas pengajin, penenun lokal dan pelaku industri kreatif tradisional ini jalan ditempat.

Lantas apa yang membuat beberapa masih bertahan menekuni profesi mereka ini? Melihat dari lokasi di Lombok Timur desa-desa sentra penghasil kerajinan yang semula memiliki puluhan pelaku, ada yang tetap bertahan bahkan cenderung naik, ada pula yang perlahan bertahan hingga hitungan jari. Desa Loyok penghasil kerajinan bambu dan ketak yang semula sebelum krisis moneter 1998 mencapai 25 lebih, saat ini tinggal 5-6 pengrajin, namun di sisi lain penenun Pringgasela cenderung ajeg dan saat ini mulai bergeliat kembali hidup dan berjumlah hingga 1000 an penenun. Sebagian memang beralih profesi menjadi TKI, yang lain bertahan karena masih melihat peluang dan mengambil kesempatan saat era social media dan arah komunikasi online menjangkau masuk hingga ke pelosok wilayah mereka. Terlebih saat pencanangan daerah tujuan wisata super prioritas yang lebih dekat dengan lokasi pengrajin, membuat kemungkinan penyerapan pasar karya mereka semakin terbuka.

Sebagian memang tidak bisa beralih mencari ide-ide baru untuk dibenamkan dalam karya mereka, sebagian lain berani mencoba hal baru dengan menerima pesanan karya dari pihak luar daerah mereka. Hal inilah yang membuat ketika pemerintah punya program kolaborasi desainer profesional dengan para pekerja kreatif lokal berkarya intensif bersama dalam jangka waktu yang lama membuat percikan-percikan semangat mempertahankan produk karya Nusantara baik dari musik, tari, arsitektur, fashion, produk dan lain sebagainya mencapai ke babak baru yang cerah dalam masa mendatang.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *