Navigation Menu+

Sales person itu bernama Event Kota

Posted on Oct 8, 2017

Salesperson itu bernama Event Kota

 

Dikaruniai pantai dan perbukitan, tinggal di kota yang menjadi tengah jalur Pantura, Semarang memang diberi pilihan banyak untuk menawarkan diri dari sisi keunggulan keindahan alam dan akulutrasi budaya dan juga posisi sebagai ibu kota yang mengedepankan jasa MICE, kedepan.

 

Saya melihat kota ini sebagai kertas putih, yang masih banyak peluang untuk dicorat-coret warna pelangi atau warna monokrom tergantung kehendak hati ini menuju.

 

Banyaknya peluang itu terasa dengan dibenamkannya berbagai macam kalender kegiatan kegiatan wisata, tumbuhnya properti baik landed house maupun highrise yang jumlah apartemen saja sudah lebih dari 15 tower, banyaknya bisnis perhotelan dengan ditandai lebih dari 50 hotel berbintang dan 60 lebih hotel berlabel hotel budget, dan dibangunnya infrastruktur kota fisik dan non fisik.

 

Kegiatan sebaiknya ditumbuhkan dari inisisasi warga kota dan memberikan dampak positif berupa efek berganda kepada industri lain yang menjadi stakeholder kegiatan tersebut. Efek berganda itu akan memberikan pondasi yang kuat untuk menjadikan kegiatan kota itu mengalami peningkatan pada pelaksanaan tahun kedepannya.

 

 

Merebut Hati Warga

 

Tidak usah membandingkan satu kota dengan kota lain, toh perbandingan apple to apple itu ga akan bisa kita samaratakan satu kota dengan kota lain.

 

Lantas dengan kota pantura seperti ini, apakah kegiatan unik di kota ini bisa mendongkrak nilai jual kota ini ke tingkat Nasional? Jawabnya sangat mungkin dan sudah terbukti, kegiatan-kegiatan unik yang diinisiasi oleh banyakknya komunitas di kota ini baik yang ada di wilayah pusat kota, ataupun pinggiran ternyata mampu memberi warna sehingga kota ini pun memiliki kegiatan tetap yang banyak berawal dari kegiatan yang berbasis dari bawah tersebut. Semarang memang disebut kota nomor satu komunitasnya oleh salah satu majalah marketing nasional di Indonesia 3-4 tahun lalu.

 

Nah, sebagai sebuah kegiatan yang menjadi atraksi pariwisata, event kota ini layaknya sebuah tenaga sales yang menjadi salah satu amunisi menjual kota ini keluar.

 

Salesperson berupa event ini memiliki banyak tim marketing yang merupakan stakeholder terbesar yakni : warga kota itu sendiri.

Bukankah sesuai dengan anjuran Presiden Jokowi, menempatkan pelayanan warga di nomor satu, setiap program harus bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga itu mutlak.

 

Merebut hati warga adalah efek samping dari mempersembahkan kegiatan kota yang baik yang menempatkan warga sebagai raja, adalah kunci tim marketing event kota.

 

Event yang dilaksanakan tanpa perencanaan yang matang, disertai dengan mendalami kebutuhan warga, dituangkan dalam cetak biru rancangan kegiatan yang terstruktur mengenai visi, misi dan target, tentunya akan sangat dangkal dalam eksekusi dan siapa lagi yang akan terkena imbasnya? warga kota sebagai stake holder terbesarnya.

Perencanaan 4A yang matang, mulai dari segi konten atraksi yang akan dibuat, aksesibilitas, fasilitas perencanaan kedepan tentang dampak lingkungan warga sekitar, serta penyiapan organisasi / kelompok masyarakat yang melibatkan SDM lintas disiplin memang mutlak harus dipegang kuat-kuat dari awal.

 

Perencanaan dan eksekusi event kota sebisa mungkin harus nyambung, yang muaranya bisa menjual, siapa customer pertamanya? warga kota tadi, posisi unik ini akan membuat pondasi kokoh yang akan membuat event dan kota itu menjadi tuan rumah yang dicintai dan dirawat oleh warganya.

 

Energy Return

 

Pengalaman menikmati sebuah event ini merupakan sebuah brand experience, yang ini memang sebuah proses panjang yang diawali oleh pra, d-day, dan pasca event.

 

Warga yang akan menikmatinya memang harus mengenal product/event itu dulu sebelum mereka memutuskan untuk mendatangi acara tersebut. Product knowledge bagi sebuah event kota bukan sesuatu yang gampang-gampang susah untuk dibuat, yang pasti informasi awal yang cukup dan bisa dilihat oleh warga kota ini, baik netizen maupun citizen tergelar dan bisa diakses warga, akan membawa warga kota ini melangkah ke tahap selanjutnya untuk ‘membeli’ mendatangi kegiatan tersebut.

 

Mau digelar dimana dan kapan info tersebut? Bisa pakai cara lama yang masih tetap ada : koran, radio, cetak poster dan sebar pamflet atau cara baru yang gratis : promosi digital di sosial media.

 

Makin jauh hari pelanggan menerima informasi tersebut, makin baik, karena segala sesuatu terkait saat yang tepat memang harus nyambung alias konek dengan jadwal warga. Kita tidak mau kegiatan yang kita adakan tidak dilirik warga kota kan?

 

Keputusan mereka mendatangi event tersebut diikuti oleh setumpuk asa dan keinginan untuk terlibat dan menjadi bagian cerita dalam keseharian mereka, bahwa mereka ada dan menikmatinya, yang barangkali ini menjadi sebuah oase di tengah lelahnya keseharian mereka hidup dan tumbuh berkembang di kota ini.

 

Menyerap energi suasana kegiatan, memenuhi panca indera mereka oleh atmosfer disekitar lokasi, berinteraksi dengan pengunjung lain, menikmati hingar bingar alunan suara manusia dan musik, meneguk kehangatan minuman panas di dinginnya hujan ditengah acara, Menghirup aroma asap barbeque penjual sate ayam dan sosis bakar yang tersedia ditengah acara, mungkin akan menjadi setumpuk energi yang akan memenuhi ruang-ruang memori warga kota, saya akan mengingat event ini sebagai bagian dari hidup saya : Yay atau Nay

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *