Navigation Menu+

Setahun Johar! Tetenger Kota yang Melewati Ujian Masa.

Posted on May 13, 2016

save parjo 04 Saveparjo 01 save parjo 02 save parjo 00

Sebuah catatan pada diskusi lesehan setahun #BangkitJohar,
Rabu 11 Mei 2016, Sobokartti Semarang.

Pertemuan yang digagas oleh elemen masyarakat #saveparjo save pasar johar pada rabu malam 11 mei 2016 di Sobokartti, dihadiri oleh pegiat sejarah, budayawan, arsitek, awak media, wakil warga kampung sekitar pasar Johar, dan Bappeda Kota Semarang.

Berikut beberapa hal yang mengemuka pada acara rabu malam lalu…

 

Pada awal pasar Johar ini hanya berupa bangunan dengan desain dari kayu jati yang kemudian oleh karsten di desain lebih modern dengan bangunan beton tersebut. Thomas Karsten sang arsitek juga membuat desain pasar lain di Palembang setelah project Johar ini selesai namun dengan konstruksi dari bambu ( sayang telah terbakar )

Alun-alun pasar Johar yang terdokumentasikan saat ini adalah alun-alun rancangan VOC, sedangkan alun-alun tua kita ada di sebelah utara mesjid dan ini menyadarkan kita bahwa tata kota Semarang lama sedikit berbeda dengan tata kota jawa lain.

Ada perbedaan desain ventilasi jatingaleh, dengan ventilasi saudara kembarnya yakni Johar dan Randusari. Namun desain Randusari pun belum menggunakan desain cendawan melengkung, masih kaku. Hingga kini masih belum terjawab pertanyaan apakah konstruksi cendawan lebih murah dr konstruksi beton sebelumnya yang pernah dibangun di semarang : pasar peterongan.
Kesamaan ketiga pasar desain Karsten ini adalah semua memiliki jarak antar kolom yang sama : 6 m sama semua.

Perbedaan nyata juga sangat terasa antara rancangan Karsten di pasar Johar dan pasar Gedhe solo, dan satu lagi di palembang, mungkin ini mengadaptasi lingkungan sosial sekitar dan faktor alam Semarang yang ada dipesisir sehingga beda budaya belanja tersebut diadaptasi oleh beliau. Palembang lebih gelap ketimbang Semarang meski memiliki ketinggian plafon pasar yang hampir mirip.

Pasar Johar ini hanya selemparan batu dengan kota lama, jadi seiring dengan diangkatnya kota lama menjadi worldheritage seharusnya upaya konservasi ini harus memiliki benang merah yang kuat diantara keduanya.

Benda cagar budaya… semua upaya yang dilakukan terhadap benda cagar budaya tersebut haruslah bisa dipertanggungjawabkan, sebagai contoh benteng Ungaran adalah sebuah pemugaran bangunan yang banyak tambahan dan tidak bisa dipertanggung jawabka secara ilmiah.

Upaya yang dilakukan kelak terhadap pasar Johar sebagai BCB tidak boleh gegabah dan serampangan. Bagaimana mengembalikan Johar ini sebagai bangunan yang memiliki nilai penting bagi masyarakat dan sekitarnya

Menurut catatan Prof. Ir. Totok Rusmanto, bagusnya Johar ini harus menarik ahli-ahli kosntruksi tingkat nasional, ada beberapa kasus kolom cendawan yang terbakar melengkung dengan jarak hingga 11 cm! Laboratorium sekaligus tantangan buat mereka untuk menjawab masalah ini. Meski orang ahli sipil tak butuh romantisme masa lalu belaka, namun saran mereka akan sikap terhadap perlemahan struktur yang terjadi di pasar Johar ini menarik untuk ditunggu.

Keunikan-keunikan kolom cendawan di Johar selain ada kawat nyamuk yang dipergunakan sebagai perkuatan, kolom ini ternyata memiliki ada pipa lonjong seperti pipa PVC yang terpotong didalamnya, masih menimbulkan tanda tanya kegunaan lobang pipa tersebut.

Menata pedagang dan menata PKL sama beratnya, apakah semua pedagang yang semula menempati Johar bisa dikembalikan, dengan cara misal diurutkan dari ketua kelompoknya, paling lama menempati dan aktif kemudian urutan hingga paling baru… banyak pendekatan terhadap verifikasi ini.

Beberapa usulan tentang Johar :

1. Nilai pasar Johar sebagai tetenger, jadi ‘jujugan’ ke johar, perlu dirumat agar kita selalu ingat akan sejarah kita.
2. Pengembangan pasar Yaik kedepan memang cocok jika lantai 1 kosong sehingga bisa menjadi ruang publik, lantai 2 setetrusnya barulah mulai untuk swasta. Mengingat budaya semarang pesisir yang egaliter, religius, equality selalu ingin bisa berinteraksi sebelum mereka naik ke atas.
3. Kerinduan akan alun2 lama kota semarang tempat dahulu kala jamu Bopo biyung, obat wahing ( bersin ) yang trend dijual saat itu… sangat kuat, mungkinkah aspek tradisional ini bisa diperlihatkan kembali saat revitalisasi lagi kawasan ini.
4. Sepertinya aturan2 yang ketat yang dibuat oleh pemerintah pemerintah belanda, sangat efektif mengatur pedagang yang hidup di Johar ini, setelah merdeka penataan pedagang menjadi semakin longgar pedagang nambah tak karuan.
5. Jika dinas pasar tidak mampu, perlukah dibentuk manajemen yang profesional seperti BUMD yang kuat dan profesional untuk mengelola Johar ini kedepannya. Karena seperti kasus pasar Bulu, sekarang sudah kotor meski baru dipakai beberapa waktu.
6. Sebaik-baik desain tetap pengguna mencari celah kelemahan desain tersebut,
Thomas Karsten cerdas tapi kalah pinter dibanding anak kampung, dulu kala setelah pasar tutup, dengan cerdik anak-anak kampung ini mereka bisa masuk ke pasar menggunakan sarung turun dari atas untuk mengutil benang yang ada di los-los johar saat itu.
7. Persaingan pasar tradisional vs pasar modern yang pernah terjadi di tahun 1995 saat Matahari berdiri di depan pasar Johar, terbukti tak mampu mendobrak dominasi Johar, 5 tahun kemudian malah ternyata pasar modern tersebut yang tutup.
8. Desain Johar kedepan haruslah memiliki lahan untuk bermain anak2 di johar. Kita tidak menyangka banyak pedagang yang keseharian tinggal berdagang di pasar Johar dan memiliki anak hidup di sana hampir 90% bukan KTP semarang.

9.  Bangunan Johar Karsten akan tetap dipertahankan, arah hadap orientasi pintu masuk akan dikembalikan ke sisi timur barat yang berupa poros mesjid besar Kauman dan pintu masuk Johar sisi barat.

10. Saat ini sedang tahap DED detail engineering design yang memakan waktu setahun dan akan mulai direalisasi pada 2017 paling cepat

11. Pada 23 mei 2016 akan diadakan fgd tentang paparan awal hasil tersebut di Bapppeda kota semarang.

 

Semoga kita tetap bisa mengawal perkembangan Johar ini kedepan, jika kita melupakan sejarah kita akan jadi apa nantinya kota Semarang ini kedepan?

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *